![]() |
| sumber: http://marcheijourney.wordpress.com |
Nomer antrian 12 akhirnya masuk juga. Sapaan selamat malam menjadi pembuka basa-basi pembicaraan dengan bu dokter.
"Eksim demartitis", ujar si dokter. Eksim? aku terbengong-bengong mendengar istilah itu. Aku terkena eksim. "Pasti ada sumber pencetusnya, bisa karena panas terik, udara kotor, makanan spicy atau yang lainnya". Rasa penasarannya terjawab sudah. Wajah memerah, gatal-gatal juga munculnya bentol-bentol kecil disepanjang jari dan telapak tangan itu ternyata eksim demartitis. Nama yang bagus namun tak seindah kenyataanya. Toh nyatanya aku sangat tersiksa dengan rasa gatal ini. Jika hanya gatal tak jadi soal, tapi yang membuat semakin tidak nyaman adalah warna merah di wajah seperti layaknya kena bakar dan mengelupas.
Cari-cari info di internet mengenai eksim demartitis membuat makin galau kondisku. Karena penyakit ini ternyata kambuhan sifatnya. Belum lagi gambar yang disuguhkan sepanjang laman internet yang aku buka menambah panjang daftar rasa takutku. Dan, hempasan nafas panjang seketika menghentikan aku dari lamunan panjang. Ah, kayak ga inget Allah saja...
Allah yang memberikan penyakit ini, Allah juga yang mengangkatnya. Allah yang menciptakan penyakit ini, Allah jua yang menghilangkannya. Kenapa harus bersedih? Kenapa harus galau? Kenapa gundah? Kenapa dan kenapa?
Penyakit yang tengah diderita ini kembali mengajarkan aku tentang arti sebuah kasih sayang yang tidak pernah putus Allah berikan kepadaku. Penyakit ini belum seberapa dibandingkan dengan pengorbanan beberapa kolegaku yang tengah berjibaku dengan kanker, tumor dan penyakit-penyakit lain yang melebihi penyakit eksim ini.
Penyakit eksim ini kembali menghantarkan aku bahwa ada secercah syukur yang tiada henti bahwa aku masih diberi kesempatan untuk kembali berpikir dalam.
Dengan segenap rasa dan penuh penghayatan, Allah...aku ikhlash...
