Ruang Sendiri

Diposting oleh Label: di

"(Pagi melihatmu) menjelang siang kau tahu
(Aku ada di mana) sore nanti
Tak pernah sekalipun ada malam yang dingin
Hingga aku lupa rasanya sepi
Tak lagi sepi bisa kuhargai

Kita tetap butuh ruang sendiri-sendiri
Untuk tetap menghargai rasanya sepi"

Penggalan lirik lagu "Ruang Sendiri" menarik perhatianku. Tulus , sang penyanyi, menyihirku lewat lantunan lagu yang ia sampaikan. Ruang sendiri...ach berapa banyak hari yang kulalui dengan sendiri. Sendiri bukan hanya secara fisik namun juga bermakna secara psikis. Raga mungkin hadir ditengah keramaian manusia, namun psikis membenamkan diri dalam kesendirian.

Ada banyak orang yang takut dengan kesendirian. Ada banyak manusia yang menghindar dari kesendirian. Tentunya dengan berbagai alasan dan pertimbangan. Namun bagiku, kesendirian bukanlah sesuatu yang perlu ditakutkan. Karena sejatinya kita terkadang membutuhkan ruang untuk sendiri.

Aku sepakat dengan apa yang disampaikan Tulus lewat lagu tersebut. Bahwa memberi kesempatan untuk sendiri berarti memberi ruang untuk menciptakan dan menimbulkan perasaan yang lain muncul, perasaan yang muncul itu adalah rindu.

Memberi ruang sendiri juga berarti kita menyiapkan diri dan menghargai rasa "sepi". Salah satu rasa yang Allah ciptakan untuk manusia.

(sumber gambar : arsip internet)

Jika bicara tentang sendiri, ternyata jauh sebelumnya Islam telah mengajarkan tentang konsep ini. Namanya uzlah. Atau bahasa kekiniannya adalah kontemplasi. Uzlah atau menyendiri adalah upaya untuk istirahat sejenak dari hiruk pikuk dunia yang selalu menyelimuti kehidupan manusia. Para tawasuf mengartikan uzlah sebagai cara menyendiri di puncak gunung. Tidak mesti seperti itu sebenarnya. Uzlah bisa dilakukan dimanapun. Di rumah, di mesjid atau tempat-tempat yang kita anggap kondusif untuk beruzlah. Aktivitas uzlah sangat bebas. Tergantung kebutuhan masing-masing individu. Intinya kita fokuskan diri kita untuk melakukan evaluasi menyeluruh yang kita inginkan. Karena memang uzlah atau kontemplasi digunakan untuk melakukan perenungan dalam atas hal-hal yang menjadi konsern kita. Bisa hal itu menyangkut hal yang bersifat sangat pribadi.

Kembali lagi ke ruang sendiri, bahwa manusia dengan segala tingkah polahnya membutuhkan ruang dimana ia melepaskan diri dari interaksi sosial. Hanya sesaat, bukan untuk selamanya. Setelah sesaat menyendiri diharapkan ia mampu merangkai langkah dengan lebih bijak untuk menapaki kehidupan selanjutnya. Diharapkan sekembalinya dari beruzlah ia menemukan oase rindu yang menjelma menjadi semangat yang membara. Timbullah kemudian semangat untuk memperbaiki diri, semangat berbagi dan semangat untuk terus menginspirasi.

Jadi kawan...jikalau kau temukan aku sedang ingin sendiri, itu tandanya aku tengah menata diri untuk kemudian melakukan perbaikan besar dalam diri ini. Aku tengah berpikir untuk menemukan langkah terbaik terhadap pilihan-pilihan hidup yag harus aku jalani. Dan, aku tengah mengukur seberapa besar arti kehadiranmu dalam hidupku...

Kawan, semoga kau paham itu.....
Posting Komentar

Back to Top