Tangerang, 16 Maret 2016
Sebuah laman internet menghentikan langkah pencarianku. Keputusan menghentikan bukan hanya sekedar aku menemukan objek yang aku cari, tapi juga karena laman tersebut menampilkan ungkapan tak lazim yang belum pernah aku dengar sebelumnya. Apa pasal? Mari simak ungkapan yang aku maksud tersebut."Usahakan menulis setiap hari. Niscaya kulit anda akan menjadi segar kembali karena kandungan manfaatnya yang luar biasa" - Fatimah Mernissi
Siapa Fatimah Mernissi? Dunia googling memudahkan pencarianku tentang sosok wanita ini. Muslimah yang lahir pada tahun 1940 dikenal sebagai feminis arab muslim yang terkenal. Beliau lahir di Maroko dalam lingkungan hareem yang tidak sederhana. Kenapa aku memberi gambaran seperti itu? Karena informasi yang aku dapat, hareem adalah sebuah tatanan kerajaan yang ketat dimana wanita ditempatkan secara marjinal. Mungkin info ini tidak sahih sepenuhnya, karena aku dapatkan gambaran ini pula dari sebuah telenovela picisan yang diputar di sebuah channel televisi ibukota.
Tak perlu berlama-lama pada hareem dan Fatimah, tapi marilah kita tinjau pandangan Fatimah tentang dunia tulis menulis. Menulis dan kulit yang segar? Apa hubungan antara keduanya? Mungkin bagi orang yang secara sekilas menbaca ungkapan ini tidak terlalu melihat makna tersirat atas postulat yang Fatimah sampaikan. Sah-sah saja Fatimah menyampaikan hal tersebut, apalagi notabenenya Fatimah orang terkenal dan tokoh feminis yang karyanya sudah mendunia. Sama halnya ketika seorang Abraham Linclon atau Soekarno yang sering memberikan quote-quote bombastis, yang kemudian dijadikan rujukan semangat bagi banyak orang. Begitu pula Fatimah. Namun sebagai seseorang yang dilahirkan dengan segala keistimewaan dari Allah SWT, maka kita diharapkan mampu bukan hanya membaca hal-hal yang tersurat, namun pula yang tersirat. Aku hanya berpikir Fatimah tengah membenamkan hal tersirat ketika menghubungkan statement mengenai menulis dengan kulit. Sekali lagi, ini adalah pandanganku.
Mengapa demikian?
Aku berputar otak mencari tahu lebih dalam ungkapan tersebut. Memahami yang tersirat tidak hanya membutuhkan otak yang prima untuk mencernanya namun juga melibatkan kalbu. Orang-orang yang mampu membaca hal tersirat bisa dipastikan orang tersebut memiliki mata hati yang jernih. Bashirah yang tajam. Karena memahami hal tersirat membutuhkan energi dan perenungan yang dalam.
Mari lanjutkan pembicaraan kita mengenai ungkapan Fatimah.
Menulis dan kulit?
Aku tersenyum simpul membaca ungkapan Fatimah setelah 2 kali aku ulangi. Aku sepakat terhadap apa yang disampaikan Fatimah. Kenapa? Karena aku juga yang merasakannya.
Menulis pada dasarnya bukan hanya permainan kata namun pula permainan rasa. Kemasan tulisan yang bermain rasa sangat berbeda dengan tulisan biasa. Bahkan bukan hanya dapat dirasakan oleh yang menulisnya tapi juga bagi yang membacanya. Menulis yang baik bukan hanya mampu menyampaikan pesan yang ingin dibagi tapi mampu memberikan gambaran rasa yang tajam. Sama halnya dengan aktivitas bernyanyi. Oleh karenanya pengamat musik seringkali memberikan kritik kepada pendatang baru di kancah musik dengan istilah "bernyanyilah dengan jiwa". Ketika "rasa" yang sudah terangkum dalam tulisan dan kemudian di share, mungkin akan banyak komentar terhadap hal yang kita tulis. Apalagi jika "pengikut" terhadap laman tersebut sangat banyak. Bisa beragam argumentasi dan komentar yang muncul. Bisa sangat relevan dengan apa yang ditulis, bisa juga berbeda atau bahkan tidak nyambung sama sekali. Kita tak akan mampu membendungnya. Karena ketika sebuah ungkapan atau tulisan kita share maka ia akan menjadi milik publik. Dan segala konsekuensi logis yang akan kita hadapi di kemudian hari. Maka jika tidak kuat, lebih baik tidak perlu share artikel. Apalagi yang bersifat pribadi. Biarkan ia menjadi konsumsi pribadi.
Ketika kita ingin menulis dengan penuh rasa, maka kita akan menghadirkan segala potensi yang kita miliki. Pikiran bahkan rasa malu kita. Ketika rasa tersebut telah mampu kita tuangkan dalam sebuah tulisan maka dapat dipastikan adanya kepuasan bathin karena kita mampu secara jujur mengungkapkannya. Topik itu tidak lagi menjadi konsumsi permainan batin tapi sudah mampu kita tuangkan. Kegelisihan, kesedihan, kegembiraan dan lain sebagainya mampu kita bawa diri kita untuk berbagi walau hanya di dunia tulisan. Mungkin bagi sebagaian orang tidak mudah mengungkapkan problematikanya melalui orang lain, karena tidak semua manusia sebagai "pendengar yang baik" dan mau menjadi "pendengar yang setia". Maka pemilihan media menulis menjadi sebuah alternatif untuk melepaskan dahaga yang tengah berkecamuk di relung hati. Dan disinilah kekuatan ungkapan Fatimah bekerja. Menuangkan problematika hidup dalam sebuah tulisan mampu secara efektif meringankan kerutan dahi kita ketika berhadapan dengan sebuah dinamika hidup. Kulit wajah tidak lagi mengkerut karena setidaknya minimal kita sudah mampu menuangkannya lewat tulisan.
Itu saja? Tentu tidak!
Ada hal lain pula yang mungkin jadi pertimbangan analisisku. Kalau tadi kita bicara dalam konteks saat menulis, maka kemudian kita perlu telaah bagian pasca tulisan beredar. Setelah postingan berlalu, bahkan untuk kurun waktu satu bulan, dua bulan atau bahkan setahun, seringkali kita mencoba mereviu kembali tulisan-tulisan yang pernah kita terbitkan. Mengintip kembali beberapa postingan membawa kita pada situasi nostalgia. Mungkin ada selaksa senyum yang ditinggalkan ketika kita kembali membaca postingan tulisan kita yang sudah lama. Atau mungkin memori kita bermain-main kembali, mencoba menghadirkan empati terhadap diri sendiri terhadap situasi yang kita hadapi pada saat itu. Disitulah akhirnya nilai rasa kembali bermain. Selaksa senyum simpul aku anggap mampu membayar irisan tanda penuaan dini yang muncul di kulit. Karena bisa jadi rasa yang hadir adalah menertawakan diri sendiri, atau muncul sikap merefleksi diri sendiri. Memberikan penilaian objektif terhadap diri sendiri dengan kacamata pribadi kita.
Rasanya, tidak berlebihan ketika Fatimah mencoba menghubungkan antara ungkapan kebiasaan menulis dengan kesegaran kulit wajah. Efek positif dari keberanian menuangkan cerita, keberanian berbagi dinamika, keberanian menerima komentar baik yang positif maupun negatif, keberanian bernostalgia, keberanian merefleksi diri ataupun keberanian menertawakan diri menjadi bagian cara kita menuangkan emosi yang terpendam dalam diri. Emosi yang tadinya hanya menjadi milik kalbu diubah menjadi milik umum. Dan disitulah kita memberi celah bagi diri kita untuk membuka diri. Walaupun hanya lewat sebuah tulisan biasa.
Siang ini, pertanyaan mendasar tentang ungkapan Fatimah Mernissi sudah aku jawab. Yang tersirat berubah menjadi tersurat. Dan aku pun tersenyum simpul...
