sumber : www.metaforakami.blogspot.com
Sebuah metafora.
Kupersiapkan judul topik untuk kemudian aku tulis dalam blog ini besok. Itu ungkapan batinku yang kemudian aku taruh dalam sebuah status medsos whatapps beberapa hari yang lalu. Untuk suatu tujuan sebagai pengingat, bukan sekedar permainan "pamer" semata. Ini pun dalam kerangka menjaga ritme menulis. Menguatkan asa untuk mengikat ilmu dengan sebuah slogan sederhana, one day one post.
Aku endapkan judul itu, sambil kupikirkan bahasan apa yang tepat untuk mengekpresikan lebih detail dalam sebuah tulisan. Jujur, aku belum bertemu formulanya. Aku belum menemukan ide gila atau nyeleneh untuk membongkar isi otakku dengan pikiran-pikiran yang terkait dengan metafora. Searching di sebuah laman google juga tidak ku temukan inspirasi yang jitu. Muter-muter di mbah google hanya bertemu dengan definisi majas metafora. Majas yang pernah aku pelajari ketika masih duduk di bangku sekolah. SMP ataupun SMA. Karena tidak bertemu dengan apa yang di mau, akhirnya ku putuskan untuk menunda memposting topik yang terkait dengan metafora. Namun kegiatan menulis harus terus berlanjut, sebelum bisikan keterlenaan menyelinap masuk dalam relung kalbu. Akhirnya, aku banting setir. Topik "Kekuatan Dekapan" menjadi judul yang dilansir hari kemarin.
Entah kebetulan atau jalan keluar. Tapi aku menyakin bahwa dalam kehidupan ini tidak ada yang terjadi secara kebetulan. Semua hal sudah terplanning dengan indah oleh Allah. Semua peristiwa sudah tercatat oleh Allah, bahkan untuk urusan perkara remeh temeh. Apa pasal bahasan ini menjadi melebar kesini?
Kebetulan hari Sabtu besok adalah adalah jatahku untuk mempresentasikan sebuah buku yang berjudul Al-Iman wa Iqadz Al-Quwa Al-Khofiyyah atau dalam versi bahasa Indonesia berjudul Iman Membangkitkan Kekuatan Terpendam. Tulisan ini dibuat oleh Prof. Dr. Taufiq Yusuf Al-Wa'iy. Buku terbitan Al-I'tishom ini sudah naik cetak sebanyak 2 kali sejak tahun 2004. Kebetulan lagi (ah tidak ada yang kebetulan sebenarnya), cakupan bahasan yang menjadi tugasku ada di bab 8 dan 9. Lingkup bahasan bab 8 tentang "Pertanyaan itu adalah jawaban" sedangkan topik yang dibahas pada bab 9 adalah "Kekuatan ungkapan Metafora".
Aku terkejut. Setengah tidak percaya. Tapi aku sangat yakin bahwa aku tidak tengah tidur saat ini. Aku tengah terjaga dalam kondisi prima, karena ini masih sangat pagi, cuaca di luar juga sangat bersahabat. Jantungku berdegup kencang, aku tak sabar melewatkan bab 8 untuk dibaca. Karena aku ingin segera masuk ke bab 9. Bab ini bicara tentang metafora! Sebuah topik yang aku rencanakan untuk ditulis beberapa hari lalu. Topik bahasan yang membuatku stagnan ketika mencari formula yang tepat dalam menulis. Subhanallah, gumamku dalam hati. Apakah ini kebetulan? Ah tidak aku rasa. Pasti ada rencana dan skenario yang Allah tengah tetapkan kepadaku sehingga Ia mengarahkan aku berlabuh di bab ini.
"Hancurkan rintangan itu! Runtuhkan tembok penghalang! Lepaskan dirimu dari jerat tali itu! Berjalanlah di atas jalanmu dengan tenang menuju kesuksesan yang engkau cita-citakan!"
Kalimat di atas adalah kalimat pembuka dan pamungkas yang ditulis oleh Prof. Taufiq untuk menggambarkan isi bab 9 yang berbicara tentang kekuatan ungkapan metafora. Lebih lanjut, banyak pesan bernas yang aku tangkap dalam ulasan di bab 9. Bahwa, warna kehidupan kita ditentukan oleh cara pandang kita tentang kehidupan. Jika kita memandang, dinamika kehidupan kita sebagai ujian, maka sikap "strunggle" yang akan terbangun. Begitu pula sebaliknya. Sebuah gambaran metafora dapat mengubah makna yang berkaitan dengan segala hal yang kita hadapi, baik yang terkait kepedihan ataupun kenikmatan. Ungkapan yang muncul dalam diri kita, yang kita pahami, yang kita pilih akan membentuk pola pikir, akhlaq, sikap dan karakter yang kita bentuk. Oleh karena itu, mengungkapkan metafora secara baik dan cerdas, akan membangun pola positif pula.
Kekuatan emosi juga memegang peranan penting dalam mengelola dan menentukan sikap kita dalam menjalani kehidupan. Buku ini mengupas bahwa ada empat cara mendasar yang dapat kita gunakan untuk berinteraksi dengan emosi.
Pertama, menghindar.
Tak jarang kita mengambil sikap menghindar dari perasaan menyakitkan jika ada hal problem yang kita hadapi dalam kehidupan. Mungkin sikap ini mampu mengatasi untuk jangka waktu pendek, tapi tidak untuk jangka waktu panjang. Sikap ini malah akan menghalangi kita dari perasaan cinta, kasih dan berkomunikasi. Sikap terbaik yang perlu kita tumbuhkan adalah bagaimana kita dapat sampai pada makna positif yang terdapat dalam masalah tersebut. Di sinilah kelapangdadaan yang besar dibutuhkan.
Kedua, mengingkari.
Perbuatan pengingkaran hanya akan memperlihatkan betapa bodohnya kita dalam menghadapi problem. Pengingkaran ini biasanya dimulai dari pengingkaran hati, yang kemudian dilanjutkan dengan munculnya sikap arogan.
Ketiga, dialog.
Dialog yang dimaksud adalah dialog interaktif yang melibatkan hati dan interaksi sosial. Dialog hati diharapkan kita mampu beradaptasi secara luwes terhadap masalah yang kita hadapi. Dialog hati dalam kerangka membangun keberterimaan kita terhadap masalah.
Keempat, belajar dan memanfaatkan.
Jika kita menginginkan kesuksesan dalam kehidupan kita, jadikanlah emosi kita bermanfaat bagi kita. Kita tidak bisa menghindar darinya, bersikap masa bodoh, meminimalir peran, hanya akan membuat diri kita terus terpojok dan tidak berkembang. Pola pikir negatif ini yang akan melingkupi diri kita sehingga kita merasa kerdil dan akhirnya depresi yang akan kita hadapi
Pada akhirnya, makna metafora yang terungkap dalam pesan ini adalah be posifitive, as always. Selalu libatkan emosi positif dalam kehidupan kita. Pola emosi positif akan mampu membangun pola sikap, pikiran dan akhlaq yang postif jua.
Energi positif itulah yang kemudian menjelma menjadi kekuatan ungkapan metafora yang sesungguhnya.
