Kamis, 21 Januari 2016
Aku mematung!
Mata berhenti pada satu titik.
Jari-jari kaku tak bergerak.
Otak berputar-putar tak henti.
Berusaha keras memaksa hati untuk tak bergeming.
Ayo, ayo ayo!!!
Aku pompa semangat pagi ini dengan penuh energi. Ku paksakan jari-jari tangan menari dalam tuts-tuts keyboard sambil ditemani "Heaven Knows"-nya Rick Price.
Aku tengah berjuang, beriltizam untuk kembali menulis. Kembali merangkai kata-kata. Kembali memainkan perasaan dan ragaku. Aku paksa segenap jiwa dan raga untuk bertarung dengan mahluk yang bernama rasa malas. Aku buang semua syak prasangka. Aku benamkan ego. Aku kuatkan azzamku untuk kembali disini.
Semua terjadi karena keterlenaan.
Semua berawal dari keterlenaan.
Hingga sulit lagi membangkitkan hasrat untuk kembali menulis.
Lalu, mau jadi apa diri ini?
Prestasi tidak ada. Istimewa juga tidak.
Lalu mau jadi apa hamba Allah yang satu ini?
Jika kita tau bahwa keterlenaan adalah ancaman, kenapa kita masih berkutat padanya. Kenapa kita masih membiarkan ia tumbuh subur dalam sanubari kita? Kenapa kita biarkan dia mengalir dalam darah kita? Padahal ia menghisap manisnya semangat, ia membakar tak bersisa semua mimpi kita. Kenapa masih kau biarkan ia hidup jika kau tau bahwa ia adalah ancaman?
Disini. Hari ini.
Aku tata kembali ruang-ruang mimpi.
Aku atur kembali suasana hati.
Aku susun kembali strategi.
Aku ingin ajari diriku yang baru di awal tahun ini. Aku ajari tentang arti manfaat. Aku ajari tentang manisnya kata.
Hari ini adalah saat yang tepat untuk katakan "Say Good-bye" kepada keterlenaan..
Wahai jiwa, kubukaan pintu lebar untukmu, dan kuberikan ruang yang luas untukmu berkarya, dan terus berkarya...