Rabu, 27 Januari 2016
Biografi tentang Rosulullah saw selalu menarik untuk dipelajari. Bukan hanya memperlajari sosoknya, namun juga kehidupannya. Begitu istimewa dan tak akan pernah habis dilibas masa. Kehidupan kecilnya, saat beliau remaja, saat menerima wahyu sebagai rosul, saat beliau tua, cara berinteraksi beliau dengan istrinya, dengan anaknya, dan masih banyak lagi. Kehidupan beliau menjadi konsumsi publik. Kehidupan beliau menjadi milik semesta. Karena beliau adalah uswah dan qudwah bagi ummatnya. Beliau teladan sebagai sosok pribadi. Beliau teladan pula sebagai sosok sosial. Namun bukan hanya itu saja. Beliau teladan sebagai figur seorang suami dan ayah. Rasulullah adalah milik ummat, hingga akhir hayatnya pun ia masih berpikir tentang ummatnya.
Bicara tentang Rosulullah saw memang tak ada habisnya. Bahkan tak ada satupun buku yang komplit mampu menuntaskan cerita tentang beliau. Meliput a sampai dengan z. Pasti ada sisi yang tidak komplit yang kemudian harus dikomplitkan dengan jenis dan tema dari buku-buku yang lain. Rosulullah selalu menjadi trending topic yang selalu menarik untuk disimak dan pelajari.
Aku bukan tengah bersinopsis. Aku juga bukan tengah membedah buku tentang Rosulullah. Namun aku tengah terusik dengan sebuah arti kepemilikan semesta. Ketika Rasulullah diangkat menjadi wali Allah di muka bumi, maka beliau harus siap bahwa kehidupan pribadinya menjadi konsumsi publik. Beliau menjadi sorotan banyak pihak. Bukan hanya bagi kaum muslimin saja, namun juga bagi kaum musyrikin. Beliau rela banyak orang mengupas habis kehidupan pribadinya. Beliau rela hari-harinya dilalui untuk mendengar dan mendengar. Melebarkan telinga untuk mendengar keluh kesah dan derita ummatnya. Baik untuk perkara pelik maupun perkara remeh temeh. Beliau rela mengorbankan dirinya untuk orang lain bahkan dikala beliau pun tidak dalam kondisi berpunya. Rosulullah adalah figur pemimpin yang mumpuni, figur murabbi, figur orangtua dan figur saudara. Empat gambaran figur itu yang direkam dalam biografi beliau.
Setiap manusia adalah pemimpin. Baik dalam lingkup yang besar maupun lingkup yang kecil. Minimal ia menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri. Dalam menjalankan peran sebagai pemimpin, kita akan dihadapkan pada kondisi dimana kehidupan kita menjadi bahan pembicaraan. Kehidupan kita menjadi milik semesta. Ungkapan tersebut mungkin terlalu bombastis. Telalu "alay" jika mengutip istilah anak sekarang. Tapi tanpa kita sadari sepenuhnya, bahwa akan banyak mata memperhatikan kita. Mungkin dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Sebut saja jika kita menduduki sebuah jabatan di pemerintahan. Menjadi presiden di sebuah negara misalnya. Pada awalnya orang mencari tahu tentang sosok presiden tersebut. Lama kelamaan daerah yang ingin diketahui publik semakin meluas. Tidak hanya sosoknya, namun juga kehidupan keluarganya. Kehidupan ekonominya. Kehidupan masa kecilnya. Semua hal dikulik secara tajam dan detail. Bahkan pada level atau daerah yang ingin kita tutupi sekali pun. Kehidupan sang presiden menjadi konsumsi publik. Hingga jika ada salah satu keluarga yang berbuat ulah, maka sang presiden pun terkena getahnya. Sang presiden pun mau tidak mau harus siap dengan kondisi seperti itu. Presiden harus memahami dan menyiapkan konsekuensi logis yang harus dipikulnya agar ia mampu "survive" dalam menghadapi "turbulensi' yang berputar keras mengelilingi kehidupannya.
Kita, Kamu ataupun Saya, tidak ada yang tahu tentang kehidupan di masa datang. Tidak ada yang tau kita ditetapkan sebagai apa dimasa yang akan datang. Walaupun ketetapan takdir manusia telah ditulis Allah dalam Lauh Mahfudz, tak ada satupun manuasia mampu memprediksinya. Orang yang dahulu dijaman SMA biasa saja, mungkin dimasa yang akan datang bisa menjadi seorang pejabat negara yang terpandang. Orang yang dahulu terbiasa menjadi "leader", bahkan mungkin tidak menjadi apa-apa. Begitu ghaibnya hal yang berhubungan tentang masa depan. Termasuk juga begitu ghaibnya kehidupanku kelak.
Allah dengan segala kekuasaannya telah menjagaku dan menghantarkanku pada titik dimana aku terus-menerus diberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Allah dengan segala kasih sayangnya telah menghantarkan aku pada hal yang tidak pernah aku mimpikan dalam tidurku. Allah dengan segala ketetapannya telah menjadikan aku sebagai pemimpin untuk sebuah unit kecil yang terdapat di kantorku. Aku terkesima. Begitu besar kekuasaan-Nya. Hingga aku tak mampu berkelit ketika takdir menghampiriku disini. Menjadi pemimpin "kecil" disini.
Menjadi pemimpin, walaupun dalam unit kecil akhirnya membuat aku harus sering membuka mata. Bukan hanya itu, aku harus rela melebarkan telinga dan melapangkan dada seluas-luasnya. Karena kehidupanku bukan lagi milik diriku sendiri. Kehidupanku menjadi milik mereka yang aku pimpin. Posisi ini menutut aku untuk mengasah terus empatiku bahkan dikala diri ini juga tidak dalam kondisi prima. Aku pun harus meluangkan banyak waktu untuk berbagi cerita, menjadi pendengar yang baik, dan memberi solusi jitu. Bahkan bukan hanya dalam perkara teknis namun pula perkara hati. Bukan hanya itu, aku pun harus rela menjadi trending topic untuk perkara-perkara remeh temeh seperti urusan memilih hijab dan motif baju. Aku pun harus mampu menampilkan karakter unik yang aku miliki, tanpa basa-basi dan kamuflase. Aku pun harus siap mendengar dan diberi kritik dalam perkara apapun jua. Aku pun harus mampu menampilkan sikap arif jika ada seseorang yang berbuat seenak hati.
Kini, menuju tiga tahun masa jabatanku, aku masih terus beradaptasi dengan keadaanku. Keadaan dimana aku harus terus memompa semangat dan menampilkan aura positif dalam menghadapi dinamika sebagai seorang pemimpin. Aku pun terus beradaptasi dengan situasi ini, yang aku anggap sebagai sarana untuk terus mendewasakan diriku. Aku tengah berjibaku untuk senantiasa memperbaiki diri, menjadi pribadi yang istimewa sehingga aku punya "sesuatu" yang aku tinggalkan sekembalinya aku ke kampung akhirat. Aku ingin membiarkan diri ini menjadi milik semua orang. Menjadi milik semesta. Karena aku adalah seorang pemimpin. Pemimpin yang juga seorang daiyah. Nahnu du'at qobla qulli syai'.
Allah, lindungi niat hamba dan perjalanan hidup hamba disini, saat permulaan ataupun di akhirnya...