Sabtu, 23 Januari 2016
Ruang QUE Project.
Aku berkutat di dalam ruangan tersebut dengan dokumen-dokumen tebal pengadaan. Ya, sudah beberapa minggu ini pembukaan lelang pengadaan di kampus. Beberapa pemain datang ke kampus untuk mencoba peruntungan. Beberapa nama perusahaan besar terdata dalam buku tamu. Beberapa namanya familiar, tapi banyak yang tidak aku ketahui.
Pintu ruanganku di ketuk. Kemudian masuk dua laki-laki berperawakan tinggi kurus menghampiri. Satu orang sudah kukenali, namun tidak untuk yang kedua. Kupersilakan keduanya untuk duduk. Kami terlibat pembicaraan sebentar. Hanya seputar jadwal lelang. Karena salah seorang laki-laki yang datang, sudah pernah datang sebelumnya untuk membeli dokumen lelang. Dia adalah senior lulusan Fisika UI juga.
Waktu berselang setelah hari itu. Hingga suatu hari aku dikejutkan oleh dering telpon yang masuk ke handphoneku. Telpon itu dari senior Fisika yang aku sebutkan sebelumnya.
"Ka, masih ingat laki-laki yang bersamaku kemarin? Dia tertarik dengamu...", ujarnya.
Lelaki kemarin? Jujur, aku tak ingat wajahnya. Yang hanya kusadari ia berperawakan tinggi kurus. Itu tok. Tak lebih. Aku berusaha keras memaksa memoriku untuk mengingat, tapi tak juga keluar yang diharapkan.
"Dia mau kenal lebih jauh, kamu sedang tidak "berkomitmen" dengan orang lain kan?", berondong pertanyaan yang diajukan olehnya. Termasuk pertanyaan kepada siapa ia harus menuruskan keinginannya, yang kemudian aku jawab dengan sebuah ungkapan rahasia. "Silakan cari dulu siapa murabbiku ya", jawabku singkat. Aku biarkan seniorku menutup telpon dengan sebuah pertanyaan besar.
====
15 tahun kemudian.
Waktu berjalan begitu cepat. Aku kini sudah menjadi seorang ibu bagi ketiga putraku. Putraku yang kecil juga sudah mulai beranjak besar. Tahun ini aku daftarkan ia ke sebuah sekolah dasar yang lokasinya sama dengan kedua kakak-kakaknya.
Aku pandangi laki-laki yang duduk disebalahku. Aku pandangi lekat-lekat sambil kusungging sebuah senyum simpul. Laki-laki itu membalas senyumanku. Malu. Aku terus goda ia, senyumnya lebar mengembang. Lelaki itu adalah suamiku. Seorang laki-laki dengan perawakan tinggi kurus yang pernah datang ke ruang QUE sekitar 15 tahun yang lalu. Laki-laki yang memberanikan dirinya melamarku, ditengah jejeran nama laki-laki yang lain yang tengah "mengantri" untuk mengajukan proposal. Dia lelaki yang bergerak cepat. Bahkan lebih cepat dari apa yang sudah aku siapkan. Laki-laki yang memang bukan gambaran idolaku, tapi dia didatangkan Tuhan, yang terbaik untukku.
Kini, usia pernikahan kami menjelang 14 tahun. Nyaris tidak ada detik yang tidak terlewatkan antara kami berdua. Aku bersyukur, dia lelaki yang diturunkan Allah buatku. Memang bukan yang istimewa, tapi dia yang terbaik yang aku punya, saat ini...
Ya Rabb, terima kasih atas anugerah terindah yang Kau berikan padaku hingga detik ini.